Pukul 21 : 24 WITA
Dari balik pagar belakang kossan.
Masih terdengar suara pasir,batu dan semen yang beradu.
Ah,sudah semalam ini…
Mereka masih bekerja.
Sudah beberapa malam.sepertinya
hampir sepekan.
Setiap kali saya membuka pintu kamar dan sedikit mereganggkan badan setelah kerkutat dengan beberapa hal.
Angin malam dan suara-suara kerja mereka selalu bisa membuat saya terenyuh.
Dari balik pagar gelap di ujung sana.
Entah siapa mereka,
Saya hanya bisa menduga.salah seorang mungkin seorang ayah yang berkewajiban membiayai keluarganya.
Ataukah seorang anak yang menjadi tulang punggung keluarganya. ataukah seorang kakak yang bekerja untuk menghidupi ibu dan adiknya. atau bahkan seorang mahasiswa yang bekerja untuk membiayai kuliyahnya.
Bisa jadi. Salah satunya mengena.
Siapapun dia,siapapun mereka yang begitu rela bekerja semalam ini.
Bergelut dengan benda benda kasar dan angin malam.
Mereka luar biasa.
Banyak sekarang. Tikus tikus berdasi yang kerjanya hanya duduk di sebuah ruangan berAC Berfasilitas lengkap,dengan gaji yang besar serta kerjaan yang tidak berat,Tangannya pun tidak akan lecet jika hanya menggenggap polpen dan kertas serta duit,gaji selama sebulan yang lancar.
Masih saja belum puas dengan menggambil yang bukan haknya.
Bukankah keringat orang orang yang bekerja keras lagi halal itu lebih baik,lebih selamat di bandingkan mereka yang memuaskan dirinya,mengenyangkan perut perut keluarganya,dengan sesuatu yang bukan haknya.
Saya teringat lelaki penyayang di bawah langit sana.di balik lintasan jalan dan pegunungan.
Bapak.
Begitu biasa saya memanggilnya,bukan ayah,Abi atau dad. Bapak panggilan itu terasa lebih istimewa bagi saya.terasa saya benar benar memilikinya apa adanya sedari kecil. Raut wajahnya yang semakin menggambarkan usianya sekarang.
Menjadi seorang guru dengan gaji yang pas passan untuk menghidupkan ke4 anaknya. Membuat dia tidak menyerah,tidak juga berfikir berani mengambil jalan pintas.selain miliknya.
Walau kedua kakinya semakin lemah tak sekuat dulu.
Seusai mengajar atau saat saat libur masih saja menghabiskan separuh waktunya di kebun.
Mencangkul,menanam,bahkan melihatnyaa memikul karung karung sawit dengan sempoyongan
Itu membuat dada saya menjadi sesak terasa nyeri.
Ingin rasanya berteriak pada dunia.
Dia bapakkku, dia lelaki yang paling saya cintai.
Pernah suatu kali saya katakan padanya untuk tidak terlalu lelah,bekerja tidak perlu di paksakan,kecapean,yang biasa membuat kedua kaki nya membiru karena asam uratnya kambuh dan berat badannya pun menurun.
Saat itu berkata "saya bapakmu nak.selagi masih kuat, dan bisa saya langkahkan kaki ini bekerja untuk kalian akan saya lakukan.bahkan jika nanti kalian sudah menikah dan saya masih kuat.akan ku bangunkan rumah buatmu nak,bekerja keras seperti ini sebenarnya bukan buat saya tapi buat kalian.”
Tergambar raut tulus di wajahnya.
Sangatt tuluss.
Mengingat semuanya saya benar benar tidak bisa berhenti mencintai laki laki penyayang itu.
20 tahun mengenalnya.20 tahun pula dia selalu menjadi bapak yang sangat saya kagumi.bahkan bukan hanya 20 tahun.50 tahun 60 70 80 dan tahun tahun selanjutnya semoga Allah memanjang umurnya (tentunya dalam ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla) dan memudahkan rizki beliau. Dia tetap menjadi bapak yang selalu saya kagumi.
Semua yang ada pada dirinya.
Kesabarannya,semangatnya,rasa tanggung jawabnya,keteguhan dalam Agamanya.semuanya.
Uhibbuka Yaa Abatiy ...






0 komentar:
Posting Komentar