Jumat, 28 Maret 2014

Cinta Pertamaku di Kampus Merah

Filled under:

Awal aku bertemu denganmu, sulit kulukiskan betapa besar kagumku terhadapmu. Seabrik pesona, rona dan daya pikatmu membuat hati senantiasa indah melihatmu.
Pertama ku melihatmu tak bisa kutundukkan mata ini untuk menatap lekat dirimu. Saat itu engkau dikelilingi orang-orang yang begitu giat membaca kalamullah. Dan itu membuatku kagum padamu. Kaupun buat mereka nyaman dan tentram berada didekatmu. Sungguh, kau menyejukkan mata ini bahkan mata hati ini. Kau, mampu mencuri hatiku. Aku jatuh cinta padamu dipandangan pertama.


Masa-masa awal menyandang status mahasiswa baru adalah beban berat bagiku. Kaupun selalu membuka diri untukku. Sekalipun aku masih baru dan belum mengenal karaktermu.


Rentetan jurus senior tak terbendung menerjang fisik dan perasaanku. Dan bukan hanya itu, pikiran dan ideologikupun siap dilahap sewaktu-waktu. Tapi aku benar-benar bersyukur pada Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim yang begitu mengerti akan isi rasa dan hatiku. Aku bersyukur dipertemukan denganmu.


Darimu aku belajar banyak hal. Darimu awal aku mengenal manhaj salaf, darimu pula awal ku memegang amanah dikampus merah, hingga belajar mengelola rasa yang kadang sulit aku kendalikan.


Lembaran hari yang kulalui di kampus merah, hampir selalu terpikir akan dirimu. Saat jeda kuliah menjemput, kusegerakan kaki ini melangkah menemuimu. Ingin kulepaskan penat pelajaran dalam dekapanmu. Kerinduanku padamu adalah bukti jika kau mampu menawan hatiku. Kau curi hatiku dari kegelapan kedalam tawanan keimanan. Dan aku tidak menyesal dengan sikapmu.


Tidak siang tidak pula malam, kau sangat mengagumkan. Kesederhanaamu tak membuat orang jauh darimu begitupun aku. Bahkan cinta itu semakin tumbuh merekah, cinta yang lahir dan semata karena Allah.


Dalam hati aku senantiasa bertekad untuk menjagamu, memakmurkanmu. Karena aku tahu, kelak kau juga akan bersama denganku di hari Akhir. Dan yang kuinginkan adalah kau menjadi saksi untukku bukan atasku.


Akupun mendengar kabar bahwa kau akan pindah. Para petinggi jurusan berharap kau bisa membuka diri lebih agar bisa menerima lebih banyak orang-orang yang mau merasakan sejuknya dekapanmu. Saat itu aku sangat senang tapi jujur aku juga khawatir dan cemburu, sebab banyak orang lain yang juga menginginkanmu. Dengan segala upaya mereka berusaha merebutmu. Bahkan tidak sedikit mencederai dirimu. Namun kepercayaanku pada Allah akan penjagaan-Nya padamu jauh lebih besar dan itulah yang membuat aku bisa tersenyum saat berjumpa denganmu.


Jujur, nama yang dilekatkan padamu adalah inspirasi bagiku. Itulah yang kurasakan saat pertama kali mengenalmu dengan melihat papan namamu. Mis itulah singkatan nama yang diberikan padamu.


Kini tak terasa hampir empat tahun aku di kampus merah, ada amanah lain yang harus aku kerjakan dan kuselesaikan. Dan tak jarang aku meninggalkanmu, berpisah denganmu. Tapi, kelak perpisahan itu pasti akan datang, sebab pertemuan tak bisa mengalahkan perpisahan. Dan kalau pun waktu itu tiba, jangan khawatir Mis, rasa cinta dan sayang ini Insya Allah akan selalu ada untukmu. Status apapun yang melekat padaku suatu saat nanti aku berharap namamu selalu dihatiku.


Sebab kamulah yang menyejukkanku di Fakultas ini. Ketahuilah kamulah cinta pertamaku di Kampus Merah ini Mis (Mushallah Istiqamah).


Oleh: Abdullah al Buthony

0 komentar:

Posting Komentar