Awal aku bertemu denganmu, sulit kulukiskan betapa besar kagumku
terhadapmu. Seabrik pesona, rona dan daya pikatmu membuat hati
senantiasa indah melihatmu.
Pertama ku melihatmu tak bisa kutundukkan mata ini untuk menatap lekat
dirimu. Saat itu engkau dikelilingi orang-orang yang begitu giat membaca
kalamullah. Dan itu membuatku kagum padamu. Kaupun buat mereka nyaman
dan tentram berada didekatmu. Sungguh, kau menyejukkan mata ini bahkan
mata hati ini. Kau, mampu mencuri hatiku. Aku jatuh cinta padamu
dipandangan pertama.
Masa-masa awal menyandang status mahasiswa baru adalah beban berat
bagiku. Kaupun selalu membuka diri untukku. Sekalipun aku masih baru dan
belum mengenal karaktermu.
Rentetan jurus senior tak terbendung menerjang fisik dan perasaanku. Dan
bukan hanya itu, pikiran dan ideologikupun siap dilahap sewaktu-waktu.
Tapi aku benar-benar bersyukur pada Allah yang Maha Rahman dan Maha
Rahim yang begitu mengerti akan isi rasa dan hatiku. Aku bersyukur
dipertemukan denganmu.
Darimu aku belajar banyak hal. Darimu awal aku mengenal manhaj salaf,
darimu pula awal ku memegang amanah dikampus merah, hingga belajar
mengelola rasa yang kadang sulit aku kendalikan.
Lembaran hari yang kulalui di kampus merah, hampir selalu terpikir akan
dirimu. Saat jeda kuliah menjemput, kusegerakan kaki ini melangkah
menemuimu. Ingin kulepaskan penat pelajaran dalam dekapanmu. Kerinduanku
padamu adalah bukti jika kau mampu menawan hatiku. Kau curi hatiku dari
kegelapan kedalam tawanan keimanan. Dan aku tidak menyesal dengan
sikapmu.
Tidak siang tidak pula malam, kau sangat mengagumkan. Kesederhanaamu tak
membuat orang jauh darimu begitupun aku. Bahkan cinta itu semakin
tumbuh merekah, cinta yang lahir dan semata karena Allah.
Dalam hati aku senantiasa bertekad untuk menjagamu, memakmurkanmu.
Karena aku tahu, kelak kau juga akan bersama denganku di hari Akhir. Dan
yang kuinginkan adalah kau menjadi saksi untukku bukan atasku.
Akupun mendengar kabar bahwa kau akan pindah. Para petinggi jurusan
berharap kau bisa membuka diri lebih agar bisa menerima lebih banyak
orang-orang yang mau merasakan sejuknya dekapanmu. Saat itu aku sangat
senang tapi jujur aku juga khawatir dan cemburu, sebab banyak orang lain
yang juga menginginkanmu. Dengan segala upaya mereka berusaha
merebutmu. Bahkan tidak sedikit mencederai dirimu. Namun kepercayaanku
pada Allah akan penjagaan-Nya padamu jauh lebih besar dan itulah yang
membuat aku bisa tersenyum saat berjumpa denganmu.
Jujur, nama yang dilekatkan padamu adalah inspirasi bagiku. Itulah yang
kurasakan saat pertama kali mengenalmu dengan melihat papan namamu. Mis
itulah singkatan nama yang diberikan padamu.
Kini tak terasa hampir empat tahun aku di kampus merah, ada amanah lain
yang harus aku kerjakan dan kuselesaikan. Dan tak jarang aku
meninggalkanmu, berpisah denganmu. Tapi, kelak perpisahan itu pasti akan
datang, sebab pertemuan tak bisa mengalahkan perpisahan. Dan kalau pun
waktu itu tiba, jangan khawatir Mis, rasa cinta dan sayang ini Insya
Allah akan selalu ada untukmu. Status apapun yang melekat padaku suatu
saat nanti aku berharap namamu selalu dihatiku.
Sebab kamulah yang menyejukkanku di Fakultas ini. Ketahuilah kamulah
cinta pertamaku di Kampus Merah ini Mis (Mushallah Istiqamah).
Oleh: Abdullah al Buthony
About White Ocean
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, blogger mati meninggalkan postingan. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak yang shalih yang mendo’akannya.” HR. Muslim





0 komentar:
Posting Komentar