Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Maret 2014

Bapak Tua

Filled under:


     Seringkali kita melihat masalah hanya dari kaca mata pribadi,
Ada seorang bapak tua bersama empat orang anak yang masih kecil-kecil, mereka naik kereta ekonomi dari Jati Negara menuju ke Semarang.

Di dalam kereta anak-anak itu sangat ribut sehingga mengganggu penumpang yang lain, berlarian kesana kemari dan terik-teriak tawa mewarnai keceriaan mereka, penumpan yang lain banyak yang merasa terganggu dengan tawa anak-anak itu, sang Bapak tua itu sepertinya tidak mau tau. 


Kemudian seorang Ibu memberanikan diri menegur Bapak tua,
“Pak .. Ma’af Pak, apakah anak-anak itu adalah anak Bapak ?”

Tanpa menjawab, Bapak  tua itu pelan-pelan mengangkat kepala dan melihat ke arah Ibu yang menegurnya,
“Ada apa Bu ???”, Tanya Bapak Tua

“Itu Pak, anak Bapak .. Mereka berisik dan mengganggu penumpan yang lain, tolong di suruh diam Pak .. sebagai orang tua seharusnya Bapak bisa menjaga anak-anak nya dong, kami merasa terganggu”.

“Oooh .. Ma’af Bu, saya tidak bisa”, jawab Bapak tua singkat.

“Kenapa tidak bisa ??? .. kan itu anak Bapak !!” Tanya Ibu tersebut.

“Saya tidak tega .. ”,

“Kenapa tidak tega ???”

“Tiga hari yang lalu mereka baru saja kehilangan orang tua nya akibat kecelakaan pesawat, dan sejak kecelakaan itu mereka tidak pernah berhenti menangis, dan baru hari ini saya melihat mereka bisa tertawa, saya tidak tega memberhentikan tawa nya, Jika Ibu tega maka saya persilahkan”, 
jawab Bapak tua mengakhiri percakapan.

Sang Ibu kemudian kembali ke tempat duduk nya dan tidak bisa berkata apa-apa lagi sambil meneteskan air matanya, kini marahnya berubah menjadi sayang, bencinya jadi simpati, Ia sangat senang melihat anak yatim piatu itu bisa tertawa lepas.

Yakinlah .. Pada saat kita mau membuka mata hati dan pendengaran pastilah hidup ini lebih mudah untuk di fahami, kebencian jadi kasih sayang, dendam jadi persahabatan. Tidak ada yg salah dalam kehidupan ini, yang salah adalah pada saat kita tidak berusaha mau mengerti tentang kehidupan. Sungguh Allah menginginkan kebaikan bagi Kita kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat, karena Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Oleh: Bagus Hernowo (Pesantren Entrepreneur)

Posted By White ocean06.29

Selasa, 25 Maret 2014

Nenekku Tersayang

Filled under:

Ada seorang remaja wanita masih sekolah di kelas 2 SMA, setiap hari dia di tugaskan untuk merawat nenek nya, nenek nya sudah lumpuh hidupnya hanya di habiskan di tempat tidur. Suatu saat iya mulai protes karena ketidak adilan yang di rasakanny.
“Ma .., gantian dong merawat nenek, masa’ setiap hari harus aku”, kata si wanita kepada mamanya, kemudian Mamanya memotivasi
“Nak .. merawat nenek pahalanya banyak”.

Sesekali anak itu mau menuruti mamanya, tp di saat lain ia mulai protes lagi,
“Ma, gantian dong yg merawat nenek, masa’ setiap hari harus aku, kenapa harus aku ?? kenapa tidak mama ?? kenapa tidak bapak, dan kenapa tidak kakak atau adik yg merawat nenek, tp kenapa harus aku ???”.  
Protes nya mulai keras, mamanya kemudian memeluk sambil menangis,

“Nak, kamu sudah besar, kamu benar-benar mau tau kenapa ??,”
“Iya ma ..”. Jawab si Anak
“Dulu .. sewaktu kamu masih berumur enam bulan, malam itu rumah kita kebakaran, semua orang menyelamatkan diri dan barang-barang yang masih bisa di selamatkan, Bapak dan Nenek manggendong kakak-kakak mu dan Mama menggendong kamu .. setelah kita keluar semua, Bapak bertanya kepada Mama, 
 “Mana Bayi nya ???” 
Tanpa sadar ternyata yang mama gendong bukan bayi tp guling kecil, kami baru sadar saat itu ternyata kamu masih di dalam rumah di lantai dua, Tiba-tiba saja dari arah belakang kami lari menerjang masuk ke dalam rumah, ternyata nenekmu Nak .. Nenekmu, Nenekmu lari memaksa masuk ke dalam rumah kemudian naik menerobos ke lantai dua, setelah menggendong dan membawamu, Nenek mu terjun dari lantai Dua, terjun sambil menggendong kamu Dan sejak saat itulah nenek mu LUMPUH.”

Anak itu terdiam sambil meneteskan air mata tanpa suara, dan mulai saat itulah iya tidak pernah lagi protes saat-saat di suruh merawat nenek nya, bahkan hari-harinya di habiskan untuk merawat neneknya, ia sangat senang dan bangga bisa merawat nenek nya, ia bangga pada neneknya tiada kesenangan melebihi kesenanagan merawat nenek nya.

Andaikan kita tau mengapa kita berbuat sesuatu maka pastila kita akan bekerja dengan ikhlas, tekun dan serius. Ingat, dan yakinlah suatu saat  pasti kita akan faham, apapun pasti akan kita lakukan untu membahagiakan orang yang kita cintai dan yang mencintai kita.

Sumber: Bagus Hernowo (Pesantren Entrepreneur)

Posted By White ocean15.34

Minggu, 16 Maret 2014

Aku Tidak Pernah Meletakkan Rokok di Mulutku Sejak Saat Itu

Filled under:

Aku pernah diundang di malam Ramadhan dua tahun yang lalu untuk menjadi pembicara dalam satu siaran live di salah satu siaran televisi. Siaran kala itu berkisar tentang ibadah pada bulan Ramadhan. Siaran itu dilakukan di Makkah al-Mukarramah pada satu kamar di salah satu hotel yang bisa melongok di atas Masjidil Haram.

Kala itu kami berbicara tentang Ramadhan. Para pemirsa televisi bisa melihat dari sela-sela jendela kamar di belakang kami pemandangan orang-orang yang umrah dan thawaf secara langsung.

Kala itu pemandangannya sungguh mengagumkan dan mengharukan, membuat pembicaraan pun semakin berkesan. Hingga pembawa acara menjadi lembut hatinya, dan menangis di tengah halaqah itu. Sungguh suasana itu adalah suasana keimanan, dan tidak merusak suasana itu kecuali salah satu cameramen. Dia memegang kamera dengan satu tangan, dan tangan yang kedua memegang “Tuhan Sembilan Senti” menurut istilah Penyair Taufik Ismail (tambahan redaksi), yaitu rokok. Seakan-akan tidak ada satu waktu yang tersia-siakan dari malam bulan Ramadhan kecuali dia kenyangkan paru-parunya dengan asap rokok.

Hal ini banyak menggangguku. Penghisap rokok itu benar-benar mencekikku, tetapi harus bersabar, karena itu adalah siaran langsung, dan tidak ada alasan, kecuali terpaksa melaluinya.

Berlalulah satu jam penuh, dan berakhirlah kajian itu dengan salam. Kameramen itu pun mendatangiku–sementara rokok masih ada di tangannya–sembari dia mengucapkan terima kasih dan memuji.

Maka kukeraskan genggaman tanganku dan kukatakan, “Anda juga, saya berterima kasih atas keikutsertaan anda dalam menyunting acara keagamaan ini. Saya memiliki satu kalimat, barangkali anda mau menerimanya.”

Dia pun menjawab, “Silahkan…silahkan.”

Kukatakan, “Rokok dan siga…” (maksudnya sigaret),

Namun dia memutus pembicaraanku seraya berkata, “Jangan menasehatiku…Demi Allah, tidak ada faidahnya wahai Syaikh.”

Kukatakan, “Baik, dengarkan saya… Anda tahu bahwa rokok haram, dan Allah berfirman…”

Dia pun memotong pembicaraanku sekali lagi, “Wahai Syaikh, janganlah menyia-nyiakan waktu anda… saya telah merokok selama 40 tahun… rokok telah mengalir dalam urat nadi saya… tidak ada faidah… selain anda lebih pandai lagi…!!”

Kukatakan, “Apa yang ada faidahnya?”

Dia pun merasa tidak enak dariku lalu berkata, “Doakanlah saya… doakanlah saya.”

Maka aku pun memegang tangannya seraya berkata, “Mari ikut denganku…”

Kukatakan, “Mari melihat ke Ka’bah.”

Maka kami pun berdiri di sisi jendela hotel yang bisa terlihat masjidil haram dari atas sana.

Dan ternyata setiap jengkalnya dipenuhi oleh manusia. Antara yang ruku’, sujud, yang sedang umrah, dan sedang menangis. Sungguh pemandangan yang sangat mengesankan.

Kukatakan, “Apakah anda melihat mereka?”

Dia menjawab, “Ya.”

Kukatakan, “Mereka datang dari setiap tempat, yang putih, yang hitam… orang Arab dan 'Ajam (non arab)… yang kaya yang miskin… semuanya berdoa kepada Allah agar menerima ibadah mereka dan mengampuni mereka…”

Dia menjawab, “Benar… benar…”

Kukatakan, “Tidakkah anda menginginkan Allah memberikan kepada anda apa yang Dia berikan kepada mereka?”

Dia menjawab, “Ya… tentu saja.”

Kukatakan, “Angkatlah tangan anda, saya akan berdoa untuk anda… dan aminilah doa saya.”

Aku pun mengangkat kedua tanganku lalu kukatakan, “Ya Allah, ampunilah dia…”

Dia berkata, “Aamiin.”

Aku berdoa, Ya Allah, angkatlah derajatnya, dan kumpulkanlah dia bersama dengan orang-orang yang dikasihinya di dalam sorga… Ya Allah…”

Dan tidak henti-hentinya aku berdoa hingga hatinya lembut dan menangis… seraya mengulang-ulang, “Aamiin… aamiin…”

Tatkala aku ingin menutup doa kukatakan, “Ya Allah, jika dia meninggalkan rokok, maka kabulkanlah doa ini, jika tidak, maka haramkan dia terkabulnya doa ini.”

Maka pecahlah tangisan laki-laki tersebut, sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan keluar dari kamar tersebut.

Berbulan-bulan telah berlalu, aku pun diundang lagi di studio televisi tersebut untuk melakukan siaran langsung. Saat aku masuk ke bangunan tersebut, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang tampak taat beragama menemuiku, kemudian dia mengucapkan salam dengan hangat, lalu mencium kepalaku, dan merendah meraih kedua tanganku untuk menciumnya, dan sungguh dia sangat terkesan.

Kukatakan kepadanya, “Mudah-mudahan Allah mensyukuri kelembutan dan adab anda… saya sungguh menghargai kecintaan anda… akan tetapi maaf, saya belum mengenal anda…”

Maka dia berkata, “Apakah anda masih ingat dengan cameraman yang telah anda nasihati untuk meninggalkan rokok dua tahun yang lalu?”

Kujawab, “Ya…”

Dia berkata, “Sayalah orang itu… Demi Allah wahai Syaikh… sesungguhnya aku tidak pernah meletakkan rokok di mulutku sejak saat itu.”

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Dikisahkan oleh Syaikh Dr. Muhammad al ‘Arifi.

(Dinukil dari majalah Qiblati edisi 11 tahun V, Ramadhan 1431 H/ Agustus 2010).

Posted By White ocean15.29

Jumat, 03 Januari 2014

Belajarlah Bersyukur Dari Hal yang Kecil

Filled under:





Dibawah pohon yang menyejukkan, dikagetkan dengan kehadiran seorang sahabat. Sebut saja namannya Ali. “ada kisah inspiratif yang ingin saya ceritakan” tuturnya dengan suara yang penuh semangat. Sore itu, ditengah hiruk pikuk suasana kota, lanjutnya ia bercerita. Saat sedang hendak pulang dari tempat perbelanjaan bersama sang istri, saya tiba-tiba dihampiri oleh seorang pengemis. Wanita tua yang menggandeng anaknya yang masih kecil seraya berkata, “Bu, berikan kami sedekahnya! Bu sedekahnya.”


Tanpa berfikir panjang sang istri segera membuka dompetnya lalu menyodorkan uang selebaran senilai Rp. 5.000. Sang pengemis pun menerima uang tersebut, tak berselang lama tatkala mengetahui bahwa apa yang dia peroleh tak mencukupi kebutuhannya maka sang pengemis pun kembali memberikan isyarat dengan tangannya yang menguncup lalu didekatkan kemulutnya seolah-olah ia sedang berkata, “saya dan anakku sudah berhari-hari tidak makan maka tolong berikan lagi sedekahnya yang lebih agar kami bisa membeli makanan untuk berdua”. Mengetahui apa yang berusaha disampaikan oleh sang pengemis, maka istri Ali segera menimpali dengan menjawab, “maaf kami tidak bisa menambahkannya lagi, hanya itu yang bisa saya berikan”. Namun ironisnya, sang istri justru menuju ke sebuah kedai makan untuk menyantap makanan dikedai tersebut. Bersamaan dengan kejadian itu, Ali bergegas meninggalkan sang pengemis menuju ke sebuah mesin ATM. Ya, hari itu adalah hari ia gajian maka dia ingin mengecek apakah gaji yang dia terima sudah ditransfer kerekeningnya. Benar saja setelah memasukkan kartu ATM dan mengecek saldo, saldonya bertambah dengan nilai yang lumayan besar. Dengan senyum yang merekah dari bibirnya, ia bergegas untuk menarik uang yang ada direkeningnya tersebut.


Kini dompet sudah terisi dengan ratusan ribu dengan jumlah yang cukup besar. Tak sengaja diantara banyaknya uang ratusan ribu yang tertata rapi, dia menemukan uang Rp. 10.000. Dengan bergegas meninggalkan ATM lalu menemui sang pengemis tadi. Ya, dia memberikan uang tersebut kepada sang pengemis. Dengan sontak sang pengemis mengucapkan, “Alhamdulillah.. alhamdulillah.. alhamdulillah.. terima kasih pak, semoga bapak diberikan keberkahan rezeki yang berlipat ganda. Semoga bapak diberikan kesehatan dan panjang umur berserta istri dan anak bapak, semoga ALLAH memberikan keberkahan dalam keluarga bapak, dihiasi dengan istri dan anak-anak yang sholeh/sholehah, semoga ALLAH memberikan surga kelak dihari kiamat!”, do’a sang pengemis mengiringi merekahnya senyum diwajahnya karena telah merasa cukup untuk membeli makan beserta anaknya.


Tak terkira terlintas dibenak Ali, ia mendapatkan respon yang luar biasa indah dari sang pengemis. Tak habis fikir dan tak pernah disangkanya bahwa sang pengemis akan sangat gembira seperti itu. Ia hanya memikirkan bahwa yang akan dia terima ucapan terima kasih saja. Kuncup haru dan mata yang berkaca-kaca menghiasi wajah Ali, terlebih tat kala sang pengemis mengatakan sekali lagi kepada anaknya, “nak, Alhamdulillah kita sudah bisa membeli makanan”. Deg!!! Sentakan dahsyat seakan menghujam dada, membuat Ali semakin terharus hingga meneteskan air mata. Rupanya wanita itu sangat membutuhkan tambahan sedekah agar bisa membeli makan bersama putrinya karena sudah berhari-hari tidak makan. Sejurus dengan itu mata Ali mengikuti sang pengemis yang berjalan menuju warung makan kecil untuk membeli makanan.


Ia masih terdiam dan terpana ditempatnya merenungi baru apa yang baru saja ia saksikan. Seiringan dengan itu sang istri kembali menghampiri setelah makan dikedai makan yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Melihat mata sang suami yang berkaca-kaca, sang istri pun bertanya, “ada apa pak?”. Dengan suara yang agak parau dan terbata-bata, Ali berkata, “Aku baru saja menambahkan sedekah yang kamu berikan tadi sebesar Rp. 10.000”. mendengar hal itu sang istri ingin mengutarakan ketidaksetujuannya, namun Ali segera memotong dan melanjutkan perkataannya, “Bu, aku hanya memberikan sedekah sebesar itu, tapi dia berucapak hamdalah, dia berucap syukur berkali-kali seraya berdo’a. mendo’akanku, mendo’akanmu, mendo’akan anak-anak kita, dan do’a yang panjang sekali!!”


Dia hanya menerima nikmat ALLAH sebesar Rp. 10.000 saja, Subhanallah dengan begitu dahsyatnya dia berucap syukur yang tak terkira. Padahal saya sebelumnya mengambil gaji di ATM yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan kali lipat dari pada apa yang saya berikan, namun saya hanya tersenyum sambil mangguk-mangguk. saya lupa bersyukur kepada ALLAH, saya lupa mengucapkan hamdalah. “Bu saya malu!!, saya malu kepada ALLAH, saya malu kepada diriku sendiri, dan saya malu kepada pengemis tadi karena tak mampu bersyukur”. Ali meneteskan air mata di akhir kalimatnya.


By @PejuangCintaNya

Posted By White ocean06.57