Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Mei 2014

Ada Apa Dengan Kita ???

Filled under:

Saudaraku, saat mobil mewah dan mulus yang kita miliki tergores, goresannya bagai menyayat hati kita. Saat kita kehilangan handphone di tengah jalan, separuh tubuh ini seperti hilang bersama barang kebanggaan kita tersebut. Saat orang mengambil secara paksa uang kita, seolah terampas semua harapan.

Tetapi saudaraku, tak sedikitpun keresahan dalam hati saat kita melakukan perbuatan yang melanggar perintah Allah, kita masih merasa tenang meski terlalu sering melalaikan sholat, kita masih berdiri tegak dan sombong meski tak sedikitpun infak dan shodaqoh tersisihkan dari harta kita, meski disekeliling kita anak-anak yatim menangis menahan lapar. Saudaraku, ada apa dengan kita?


Saudaraku, kata-kata kotor dan dampratan seketika keluar tatkala sebuah mobil yang melaju kencang menciprati pakaian bersih kita. Enggan dan malu kita menggunakan pakaian yang terkena noda tinta meski setitik dan kita akan tanggalkan pakaian-pakaian yang robek, bolong dan menggantinya dengan yang baru.


Tetapi saudaraku, kita tak pernah ambil pusing dengan tumpukan dosa yang mengotori tubuh ini, kita tak pernah merasa malu berjalan meski wajah kita penuh noda kenistaan, kita pun tak pernah tahu bahwa titik-titik hitam terus menyerang hati ini hingga saatnya hati kita begitu pekat, dan kitapun tak pernah mencoba memperbaharuinya. Saudaraku, ada apa dengan kita?


Saudaraku, kita merasa tidak dihormati saat teguran dan sapaan kita tidak didengarkan, hati ini begitu sakit jika orang lain mengindahkan panggilan kita, terkadang kita kecewa saat orang lain tidak mengenali kita meski kita seorang pejabat, pengusahan, kepala pemerintahan, tokoh masyarakat bahkan orang terpandang, kita sangat khawatir kalau-kalau orang membenci kita, dan berat rasanya saat orang-orang meninggalkan kita.


Tetapi juga saudaraku, tidak jarang kita abaikan nasihat orang, begitu sering kita tak mempedulikan panggilan adzan, tak bergetar hati ini saat lantunan ayat-ayat Allah terdengar ditelinga. Dengan segala kealpaan dan kekhilafan, kita tak pernah takut jika Allah Yang Maha Menguasai segalanya membenci kita dan memalingkan wajah-Nya, kita pun tak pernah mau tahu, Baginda Rasulullah mengenali kita atau tidak di Padang Masyhar nanti. Kita juga, tak peduli melihat diri ini jauh dari kumpulan orang-orang sholeh dan beriman. Saudaraku, tanyakan dalam hati kita masing-masing, ada apa dengan kita? Wallahu a'lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Posted By White ocean20.19

Sabtu, 19 April 2014

Bermaksiat Lalu Beralasan dengan Takdir

Filled under:

Tidak boleh kita beralasan dengan takdir atas maksiat dan dosa yang telah kita lakukan. Mengapa?

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak boleh beralasan dengan takdir untuk maksiat. Jika dibolehkan, tentu semua yang bunuh diri beralasan dengan takdir ilahi. Begitu pula mencuri dan melakukan kerusakan lainnya, semua bisa beralasan dengan takdir.” 
(Majmu‘ Fatawa Ibnu Taimiyah, 8: 179)

Di antara alasan lainnya disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al Hamd, beliau berkata, “Takdir adalah rahasia ilahi. Kita sebagai makhluk hanya bisa mengetahuinya setelah takdir itu terealisasi. Dan itu diketahui setelah manusia mengalami yang terjadi di masa lampau. Itu sama saja ia tidak mengimani takdir dengan benar.  

Oleh karenanya, jika ada yang berargumen atas maksiatnya bahwasanya itu adalah takdir ilahi, itu alasan yang keliru.  
Karena sama saja ia mengklaim mengetahui yang ghaib. Padahal perkara ghaib hanya diketahui oleh Allah. Walhasil, argumen sebenarnya memuat kontradiksi. Dan tidak boleh seseorang berargumen dengan sesuatu yang ia tidak ketahui (takdir itu baru diketahui manusia setelah takdir itu terjadi).”
Syaikh Muhammad Al Hamd juga berkata, “Seandainya maksiat boleh dilakukan lantaran itu sudah jadi takdir, maka itu sama saja menafikan berbagai syari’at (hukum Islam).”
Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

Al Iman bil Qodo’ wal Qodar, hal. 132 karya Syaikh Dr. Muhammad bin Ibrahim Al Hamd terbitan Dar Ibnu Khuzaimah.

Artikel rumaysho.com

Posted By White ocean20.36

Minggu, 13 April 2014

Pelajarilah Dahulu Adab dan Akhlak

Filled under:

Terlalu banyak menggeluti ilmu diin sampai lupa mempelajari adab. Lihat saja sebagian kita, sudah mapan ilmunya, banyak mempelajari tauhid, fikih dan hadits, namun tingkah laku kita terhadap orang tua, kerabat, tetangga dan saudara muslim lainnya bahkan terhadap guru sendiri jauh dari yang dituntunkan oleh para salaf.

Coba lihat saja kelakuan sebagian kita terhadap orang yang beda pemahaman, padahal masih dalam tataran ijtihadiyah. Yang terlihat adalah watak keras, tak mau mengalah, sampai menganggap pendapat hanya boleh satu saja tidak boleh berbilang. Ujung-ujungnya punya menyesatkan, menghizbikan dan mengatakan sesat seseorang.
Padahal para ulama sudah mengingatkan untuk tidak meninggalkan mempelajari masalah adab dan akhlak.
Namun barangkali kita lupa?

Barangkali kita terlalu ingin cepat-cepat bisa kuasai ilmu yang lebih tinggi?
Atau niatan dalam belajar yang sudah berbeda, hanya untuk mendebat orang lain?

 

Pelajarilah Adab Sebelum Mempelajari Ilmu

Ketahuilah bahwa ulama salaf sangat perhatian sekali pada masalah adab dan akhlak. Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf ulama. Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”
Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”
Guru penulis, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata, “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.”
Oleh karenanya, para ulama sangat perhatian sekali mempelajarinya.
Ibnul Mubarok berkata,

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”
Ibnu Sirin berkata,

كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم

“Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”

Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok,

نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من حديث

“Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.” Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari.

Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata,

ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه

“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya."

Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata,

تعلم من أدبه قبل علمه

“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”
Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau banyak mempelajari adab, itulah yang kurang dari kita saat ini. Imam Abu Hanifah berkata,

الْحِكَايَاتُ عَنْ الْعُلَمَاءِ وَمُجَالَسَتِهِمْ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ كَثِيرٍ مِنْ الْفِقْهِ لِأَنَّهَا آدَابُ الْقَوْمِ وَأَخْلَاقُهُمْ

“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” (Al Madkhol, 1: 164)
Di antara yang mesti kita perhatikan adalah dalam hal pembicaraan, yaitu menjaga lisan. Luruskanlah lisan kita untuk berkata yang baik, santun dan bermanfaat. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291).
Yang kita saksikan di tengah-tengah kita, “Talk more, do less (banyak bicara, sedikit amalan)”.

 

Berbeda Pendapat Bukan Berarti Mesti Bermusuhan

Sungguh mengagumkan apa yang dikatakan oleh ulama besar semacam Imam Syafi’i kepada Yunus Ash Shadafiy -nama kunyahnya Abu Musa-. Imam Syafi’i berkata,

يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ

“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?” (Siyar A’lamin Nubala’, 10: 16).

 

Berdoalah Agar Memiliki Adab dan Akhlak yang Mulia

Dari Ziyad bin ‘Ilaqoh dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca do’a,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ

“Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’ [artinya: Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar].” (HR. Tirmidzi no. 3591, shahih)
Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya,

اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Allahummahdinii li ahsanil akhlaaqi laa yahdi li-ahsanihaa illa anta, washrif ‘anni sayyi-ahaa, laa yashrif ‘anni sayyi-ahaa illa anta [artinya: Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalinggkannya kecuali Engkau].” 
(HR. Muslim no. 771, dari ‘Ali bin Abi Tholib)

أسأل الله أن يزرقنا الأدب وحسن الخلق

Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar mengaruniakan pada kami adab dan akhlak yang mulia.

Referensi:

Ta’zhimul ‘Ilmi, Syaikh Sholeh bin ‘Abdillah bin Hamad Al ‘Ushoimi, Muqorrorot Barnamij Muhimmatil ‘Ilmi.
Siyar A’laamin Nubala’, Imam Adz Dzahabi, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-11, tahun 1422 H, jilid ke-10.
Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Ibrahim Yajus, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan kesepuluh, tahun 1432 H.
Al Madkhol, Mawqi’ Al Islam, Maktabah Asy Syamilah
http://majles.alukah.net/t17143/

Artikel Muslim.Or.id

Posted By White ocean20.05

Rabu, 26 Maret 2014

Ketika Kebosanan menyapaku

Filled under:


Setiap insan, ketika selalu melakukan hal serupa. Selalu melakukan hal yang sama dan itu menurutnya tidak mendapatkan keuntungan atau sesuatu yang baru itu tidak menambah semangatnya, maka selalu saja akan bertemu dengan yang namanya rasa bosan. 

Abdullah bin Mas’ud juga berkata, “Hati punya saat giat dan semangat, sebagaimana ia punya waktu bosan dan malas, manfaatkanlah saat ia semangat dan istirahatkanlah saat ia malas.”

Ali bin Abu Thalib berkata, “Sesungguhnya hati itu merasa bosan sebagaimana tubuh juga merasa bosan, karena itu carilah hikmah-hikmah yang menarik.”  
Jadi, terkadang Hati bertabrakan dengannya (dengan si "BOS"an). Kita tau bersama pula bahwa, sesuatu yang bertabrakan akan kalah dari salah satunya. Entah itu yang menabrak yang kalah, mati, mundur atau enyah dari perkara tersebut .. atau yang ditabrak yang akan menjadi pemenang !!!!???. Hanya pelaku yang bisa menebaknya. 

Itulah tabiat manusia. Ada rasa bosan. Dan hanya sang pencipta yang tidak pernah bosan, Dia tidak pernah bosan untuk memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-hambaNya. Tidak pernah bosan dalam beraktifitas, menggerakkan dunia dan apa yang ada didalamnya. Allah selalu tepat waktu dalam menerbitkan dan menenggelamkan matahari. Ini adalah tanda bahwa Allah tidak pernah bosan untuk memberikan kebaikan kepada para hambaNya.
Hanya saja, terkadang hambaNyalah yang cepat bosan dalam bermu'amalah dengan Allah Yang Maha Agung. Bahkan Allah selalu menyuruh hambaNya untuk memohon ampun, untuk tidak bosan meminta rahmatNya.

Mari kita renungkan firmanNya: (Hadits qudsi) 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman,

 يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR. Muslim no. 6737)

Bahkan disebutkan dalam riwayat bahwa Allah tidak akan bosan mendengarkan keluh dan kesah hambaNya, hingga hamba itu sendiri yang bosan akan permohonannya kepada Allah.

Dari ’Aisyah -Radhiallahu 'anha-, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kistiqomah) walaupun sedikit.” HR. Muslim no. 782

Manusia mungkin akan bosan dan jengkel ketika kita selalu datang mengetuk pintu dan meminta bantuan padanya. Namun, Allah Sang Maha Pengasih tidak pernah bosan sama sekali terhadap aduan para hamba-hambaNYa, yang sholehkah itu ataukah yang tholeh .. Dia tidak akan bosan.

Mari kita jaga rasa itu. Kita jaga agar kita tidak bosan untuk melakukan kebaikan. Hingga kita bertemu dengan kebosanan itu sendiri. Ketika kita bosan, maka janganlah lari dari kebosannan itu. Tetaplah maju untuk mengalahkan dan menghilangkannya secara perlahan. Dan sangat disayangkan ketika kita bosan dalam melakukan kebaikan. Maka, katakan JANGAN!!! padanya, Karena kebaikan yang sedikit saja, namun dilakukan terus menerus dia adalah sesuatu yang disukai oleh Allah Yang Menyinta Kebaikan. 

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. 
HR. Muslim no. 783, 

Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.”
HR. Muslim no. 782.

Jadi katakan pada si "BOS"an....laasabiila lituhaddima sabily...Say no to "BOR"ing.

By 'Abdullah Sa'id

Posted By White ocean18.21

Rabu, 29 Januari 2014

Cinta Harus Berkorban

Filled under:


Sahabatku, seringkali kita merasa nyaman saat kita bersama dengan ‘kekasih’ kita. Padahal itu bukan kenyamanan tapi ketertawanan. Sebaliknya, jika kita terpisah atau dijauhkan dari ‘kekasih’ kita, maka rasa tak nyaman pun menyergap. Padahal ini hanya sementara, setelah itu lupa. Karena telah sering kenyamanan diukur bersama ‘kekasih’ kita, maka kita makin matematis mengukur kesenangan. Sadarilah, ini wahai sahabatku, ini adalah kepalsuan. Karena makin matematis, kita makin tidak puas dan makin tinggi standar hidup kita. Saat itulah Allah telah lenyap dari diri kita. Yang tersisa hanya rasa yang dimiliki bersama sang ‘kekasih’. Yang ada tinggal logika matematis. Makin jauh kita berlari dari Allah. Saat itulah, mendengar kata ‘putus’ dengan kekasih, seperti kilat menyambar. Tidak pernah siap dan takkan pernah siap. Keterlanjuran yang mendalam dengan ‘kekasih’ menjadikan kita buta. Tak pernah lagi bisa menghadirkan Allah dalam hati.

Sahabatku, ‘kekasih’ yang (katanya) kita cintai di dunia, itu sebenarnya adalah palsu. Bukan kekasih sejati kita. Siapa kekasih sejati kita? Kekasih kita sesungguhnya telah banyak kita lupakan, saat kita punya ‘kekasih’ palsu. Ya, ‘kekasih’ palsu kita di dunia telah melenakan, membutakan, menutupi siapa kekasih sejati kita. Kita telah berlari dari Allah. Padahal kekasih kita yang sesungguhnya yang paling sering memperhatikan kita. Dengan segenap Rahman dan Rahim-Nya.

Itulah kita yang telah menganggap kebahagiaan dan kenyamanan datang dari luar diri kita. Padahal kekasih kita (Allah) setia di qalbu kita. Kita justru berlari dari Allah, kekasih sejati kita yang ada di qalbu kita. Kita justru mengejar ‘kekasih’ palsu, berlari kepada kepalsuan. Sahabatku, saatnya berlarilah kepada Allah untuk pertaubatan atas kepalsuan selama ini.

Yuk belajar dari kisah Ibrahim dan Ismail. Nabi Ibrahim memiliki Ismail yang telah didambakannya bertahun-tahun bersama istri tercinta. Ismail adalah ‘kekasih’ Ibrahim. Tibalah saat dimana Ibrahim harus memilih antara ‘kekasih’nya di dunia dan kekasih sejati. Ibrahim pilih berlari kepada kekasih sejatinya. Ibrahim harus mengorbankan Ismail-nya. Apa jawaban Ismail ketika itu? Lakukanlah yang diperintahkan Rabbmu (QS. Shaffat 102). Jika Ismail yang terkenal kebaikannya, keshalihannya berani dikorbankan oleh Ibrahim, lalu bagaimana dengan kita?

Hai pemuda, pacarmu adalah ‘kekasih’ palsu, kedudukannya tak sama sekali setara dengan Ismail-nya Ibrahim. KurbankanIsmailmu. Hai pemuda, dengan pacarmu kamu telah buta, kenyamananmu dengan ‘kekasih’ palsu, melenakanmu. Hai pemuda, selama ini kamu telah berlari dari Allah, sekarang saatnya berlari kepada Allah. Allah lebih pantas jadi tempat berlari, Allah telah jadi kekasih kamu, sementara kita enggan jadi kekasih-Nya.

Sahabatku, jika kita mengaku cinta kepada Allah, keberanian kita berkorban demi kekasih kita ini, diuji. Jika kita mengaku cinta kepada Allah, tapi demi-Nya kita masih enggan untuk berlari kepada syariat-Nya, itu cinta palsu. Hai pemuda, itulah sikap seorang kekasih, berani korbankan cinta palsu, kebahagiaan semu. Hai pemuda, itulah sikap seorang kekasih, sikap mau menerima apapun keputusan Sang Kekasih sejati, Allah SWT.

Hai pemuda, jadilah Ismail yang taat perintahNya, ikhlas terhadap keputusanNya. Semoga kita diberi kemampuan melakukanya. Wallahu’alam

By Luky Rouf

Posted By White ocean07.48