Organisasi, himpunan,
perkumpulan, jama’ah atau apapun namanya di dalam islam bagaikan kapal laut-kapal
laut yang berlayar dan menuju ke sebuah pulau yang satu bernama ‘pulau kejayaan
islam’. Pernah di masa silam para pendahulu kita bermukim di sana tapi para
orangtua kita meninggalkan pulau tersebut dan tersesat dalam derasnya arus
kehidupan. Maka beberapa kelompok berkumpul dan membentuk sebuah kapal laut-kapal
laut yang bisa mengantarkan mereka kembali ke pulau tersebut. Pemimpinnya
adalah nahkodanya. Dan dengan hasil musyawarah dibentuklah susunan koordinasi
pada kapal laut tersebut agar semuanya tidak saling sikut kewajiban, saling
berebut tugas, atau saling mengharapkan temannya mengerjakan pekerjaannya. Ada
regu yang mengurus bahan bakar kapal, ada yang mengurus makanan, ada yang
mencari ikan, ada yang membersihkan kapal, ada yang memperbaiki kerusakan
kapal, dan lain-lain.
Sebetulnya
setiap orang dipersilahkan berlayar sendiri menggunakan perahu kecil yang
dimilikinya, akan tetapi perlu diingat bahwa dalamnya air laut siapa yang kira
tingginya ombak siapa yang duga. Orang-orang yang hanya mengandalkan perahu
kecil kemungkinan tenggelamnya dalam gelombang laut terlampau besar untuk
ditanggung oleh pundak seoarng anak manusia. Makanya, dalam perjalanannya kapal
laut ini menuju ke pulau maka kapal-kapal ini akan memanggil orang-orang yang
berada di bwah mereka yang menggunkan perahu-perahu kecil. Dengan tujuan
menambah jama’ah karena dengan lebih banyaknya jama’ah maka akan ada banyak hal
yang bisa diselesaikan dibanding jika dikerjakan oleh jama’ah yang sedikit.
Dalam
perjalanannya, kapal-kapal ini akan menghadapi berbagai macam aral, gelombang
pasang, angin gemuruh, cuaca yang keras, hujan badai, dan karang-karang laut.
Akibatnya adalah kapal-kapal ini akan mengalami kerusakan yang paranh di
sana-sini. Belum lagi di antara masalah yang ditimbulkan oleh
penumpang-penumpang yang mementingkan diri sendiri berbuat seenaknya atas nama
kapal. Mereka mencoreng nama baik kapal dan merobek bendera kapal, dalam bahasa
kiasan. Yang mengakibatkan ada di antara para penumpang yang tidak tahan dengan
kondisi kapal ini yang membuat mereka pusing, mabuk dan muntah-muntah. Ketika
mereka yang tidak tahan ini sudah berada pada kondisi yang menjadikan mereka
muak, mereka pun akhirnya turun dari kapal dan menggunakan sampan kecil mereka
atau mereka akan beralih ke kapal yang lain.
Akan
tetapi tidak bisa disangkal bahwa ada beberapa penumpang yang telah tertempa,
terlatih, dan terbiasa dengan kondisi seperti itu, maka mereka akan dengan
sabar berada di atas kapal tersebut. Mereka akan memanggil sesama penumpang
kapal dan membicarakan bagaiman cara untuk memperbaiki kerusakan kapal yang
terjadi. Bahu membahu dan bekerja sama dalam menyelesaikan masalah, karena
mereka yakin sudah sunnatullah bahwa lebih banyak kepala memang bisa
mendatangkan banyak masalah tapi bisa juga membawa banyak ide-ide yang tak
pernah terpikirkan sebelumnya. Mereka yakin bahwa keruh pahitnya dalam
berjama’ah jauh lebih lebih baik dari jernih manisnya ketika bersendirian.
Seiring
berjalannya waktu, di antara kapal-kapal tersebut ada yang kerusakannya sudah
sangat parah dan sulit untuk diperbaiki. Nahkoda sudah tidak peduli, navigator
tidak peduli, seluruh penumpang juga tidak lagi peduli. Akhirnya kapal itu
kehilangan arah, berputar, terombang-ambing dalam ganasnya ombak samudera. Yang
menjadikan kapal itu melenceng dari tujuan yang semula yaitu mencapai pulau kejayaan
islam. Ketika kapal yang sudah sangat rusak parah tersebut sudah tidak bisa diperbaiki,
nahkoda sudah tidak peduli, penumpang saling mementingkan diri sendiri. Segala
upaya untuk memperbaiki kapal kandas di tangan para pembuat kapal itu sendiri.
Maka menjadi hal yang wajarlah jika sebagian orang dari mereka keluar dari
kapal untuk membuat sebuah kapal baru, bukan sebagai bentuk pengkhianatan
kepada teman-teman seperjuangannya, tapi sebagai bentuk menjaga agar diri
mereka tidak ikut terseret dalam gelombang samudera yang menghantam. Agar
tujuan dan cita-cita awal mereka menuju ke pulau tetap bisa terselesaikan. Agar
mereka bisa berlabuh dengan suka cita di sana.
Akhir
cerita, ketika mereka telah berlabuh, maka kapal-kapal tersebut pun
ditinggalkan, benderanya mungkin masih berkibar, catatan-catatan rekaman
pelayaran mungkin masih tersimpan, tiang-tiangnya masih tegak berdiri,
cerobongnya masih kokoh menatap angkasa, tapi kapal itu sendiri kini tinggal
kenangan. Karena pulau sudah dicapai, tujuan sudah tergapai, maka untuk apa
lagi kita membangga-banggakan kapal kita, untuk apa lagi kita tetap tinggal di
kapal. Bukankah tujuan awal kita membuat kapal untuk menuju sebuah Pulau, kapal
itu hanya sebagai sarana transportasi. Dan ketika sarana itu sudah tidak
diperlukan lagi maka kita pun meninggalkannya. Karena dengan meninggalkannya
maka ummat bisa kembali bersatu dalam naungan islam tanpa membanggakan bendera
dan semboyan masing-masing.
Oleh, Dzaky Mubarak






0 komentar:
Posting Komentar